Film The Lady adalah kisah mengenai perjuangan politik Aung San Suu Kyi, putri dari Aung San yang merupakan pahlawan pembebasan Burma dari Inggris. Perjuangan politik Aung San Suu Kyi sungguh luar biasa dalam memainkan peranan sebagai Pejuang Demokrasi Burma, seorang istri, dan seorang ibu yang dipikul dalam hati dan pikirannya. Keteguhan Suu Kyi dan nama besar ayahnya dengan cepat membawa Suu Kyi pada puncak dukungan rakyat melawan Pemerintahan Militer sejak kembalinya Suu Kyi dari Oxford pada 1988. Dukungan dari kalangan mahasiswa dan akademisi secara natural mengalir dalam visi Suu Kyi untuk mengakhiri pemerintahan yang penuh dengan kekerasan. Perlawanan Suu Kyi adalah perlawanan rakyat tanpa kekerasan (non-violent resistance), misalnya dengan pengerahan massa, mogok makan seperti yang pernah dilakukan Mahatma Gandhi, dan semua dihadapi dengan tenang.
Pada awal film, peristiwa
terbunuhnya Aung San menjadi suatu plot yang mengejutkan, tampak gedung
pemerintahan Aung San sangat lengah sehingga mudah bagi sekelompok ‘grup
politik’ membunuh Aung San dan seluruh menteri-menteri yang ada di dalam
ruangan. Menyisakan Suu Kyi, anaknya, yang menunggu di halaman rumah.
Sepeninggal ayahnya, film langsung melompat ke masa dewasa Suu Kyi. Dia
bersekolah di Inggris sehingga dalam proses sekolah itu dia memahami banyak
ajaran-ajaran yang sedang berkembang di Barat pada masa Perang Dingin yakni
demokrasi-liberal. Saat kedatangan Suu Kyi ke Myanmar dikarenakan ibunya sakit
pada 1988, pemerintahan Junta langsung khawatir, dan uniknya menampilkan adegan
yang khas di negeri Asia, yakni ketika pimpinan Junta meminta pendapat ke
seorang dukun. Wajar bagi perpolitikan negara dengan budaya mistis yang kuat,
bahkan langkah politik pun tidak merupakan produk dari kontemplasi ilmu politik
melainkan dari ramalan dan saran-saran dari ahli spiritual seperti dukun.
Sejak awal kedatangan Suu Kyi
pada 1988, Suu Kyi diperlihatkan dengan kerusuhan 8888 (8 Agustus 1988) ketika
para mahasiswa Rangoon melawan pemerintahan Militer Myanmar dan berakhir secara
tragis. Dalam film ini, satu pelajaran penting tentang politik militer adalah
bahwa kekuatan utama militer dalam meraih, mempertahankan, dan memperluas
kekuasaan politik adalah senjata, keahlian, rantai struktur komando yang jelas
dan ketat, dan peralatan-peralatan militer lain yang dapat dengan mudah
digunakan untuk menghalau dan menekan segala bentuk ancaman termasuk kekuatan
sipil sekalipun. Kekerasan adalah bahasa politik dari kekuatan militer.
Dalam film tersebut Suu Kyi
diceritakan sebagai perempuan yang sangat tangguh, bahkan juga keras kepala.
Dia adalah pembaca buku dan sekaligus intelektual yang menghasilkan karya-karya
pemikirannya dengan dukungan dari suaminya. Dia didukung oleh rekan-rekan dari
kalangan intelektual yang sangat setia menemani perjuangan Suu Kyi sampai titik
darah penghabisan untuk segera mendesak Pemilihan Umum. Karena dukungan rakyat
yang begitu besar, dan menangkap Suu Kyi akan membuat kemarahan rakyat sebab
dia adalah anak tokoh besar, maka pemerintahan Junta hanya bisa menargetkan
rekan-rekan Suu Kyi untuk dipenjara dengan cara yang sangat tidak manusiawi,
mereka dipenjara bersama hewan anjing dan tidak diberi makan. Sebagian lainnya
dihabisi oleh militer Myanmar dengan cara sadis. Suu Kyi sendiri menjadi
tahanan rumah. Menyadari bahwa akan menjadi gelombang dukungan apabila
melakukan tekanan politik secara langsung, pemerintah La Junta menggunakan
strategi menculik aktivis secara diam-diam satu-persatu agar tidak memberikan
efek pemberitaan yang menguntungkan Suu Kyi.
Sebagai balasan atas
ketangguhan Suu Kyi, suaminya, dan seluruh rekan-rekan NLD (National League
berhasil memenangkan kursi di Parlemen pada Pemilu 1990 (Pemilu pertama sejak
40 tahun terakhir) dengan perolehan kursi 392 kursi, sedangkan Junta atau National
Unity Party hanya memperoleh 10 kursi. Akan tetapi, hasil pemilihan ini
berhasil dibekukan oleh Pemerintahan Junta atau State Law and Order Restoration
Council (SLORC) sehingga Suu Kyi tidak bisa menjadi perdana menteri.
Dukungan dari kalangan biksu Buddha juga sangat tinggi kepada Suu Kyi, yang
mana dukungan ini sangat vital dalam perpolitik Myanmar.
Suami Suu Kyi, Michael Aris,
adalah seorang suami yang tangguh, mendukung istrinya secara psikologis dan
ideologis. Dia adalah suami yang sabar dalam menemani ketangguhan Suu Kyi,
sebab mereka lebih sering terpisah sejak 1988 dan hanya bertemu pada momen-momen
singkat. Komunikasi juga dibatasi ketika alat-alat komunikasi seperti telepon
semuanya diputus. Dia membantu Suu Kyi untuk menyebarkan pesan-pesan politiknya
di seluruh kota Rangoon melalui kedutaan Inggris di Myanmar. Michael atau biasa
dipanggil Mikey, juga membantu Suu Kyi dengan mengumpulkan dokumen-dokumen
untuk mencalonkan Suu Kyi sebagai kandidat nobel perdamaian, dan penghargaan
tersebut berhasil membuat pemerintahan Junta gentar. Dia meninggal karena
terkena kanker prostat di Oxford saat istrinya masih berjuang di Myanmar untuk
demokrasi. Meskipun kematian suaminya membuat Suu Kyi sangat terpukul, namun
kepalanya tetap menengadah untuk berdiri kokoh bersama penderitaan rakyat
Myanmar.
Tekanan terhadap NLD (Liga
Nasional Demokrasi) sangat besar dan intens, bahkan irasional, sebab mencampuri
urusan privat dari kehidupan Suu Kyi dan keluarganya. Penjagaan ketat militer
di kediaman Suu Kyi memberikan efek tekanan psikologis yang sangat besar untuk
memaksa Suu Kyi menyerah dengan perjuangan politiknya. Aktivitas politik Suu
Kyi dan kawan-kawannya memperoleh represi luar biasa dan konsisten dari
pemeritahan Junta. Pemerintahan Junta berusaha menahan visa dari Michael dan
sebisa mungkin memisahkan Suu Kyi dari anak-anaknya. Harapannya, Suu Kyi
menyerah dengan semua tekanan psikologi ini. Tentu bagi seorang ibu, ini adalah
hal yang sangat berat karena harus menahan rindu dan kasih sayang untuk sebuah
visi politik yang lebih besar. Dia adalah pahlawan karena berani mengorbankan
seluruh kepentingan pribadinya untuk kepentingan banyak orang. Tetapi baik
anak-anak, suami, dan Suu Kyi sendiri tampak sabar dan teguh menghadapi semua
ini demi kebaikan negara Myanmar dan rasa nasionalisme yang sangat mendarah
daging di dalam Suu Kyi.
Salah satu scene yang epik dalam film ini adalah saat Suu Kyi menghadapi pasukan bersenjata yang sedang menghalangi suatu pertemuan NLD (Liga Nasional Demokrasi). Alih-alih melarikan diri dan ketakutan, Suu Kyi justru menghadang moncong senjata tetap di depannya dengan gagah berani sampai pasukan bersenjata itu sendiri berhenti untuk menghadang mereka. Pemerintahan Juncta justru marah dengan pasukan di lapangan yang menghadang Suu Kyi sebab keberanian Suu Kyi menjadi berita dan kehebohan nasional yang justru memperkuat romantisme politik untuk mendukung Suu Kyi. Kemudian, momen epik lainnya adalah ketika Suu Kyi mendengarkan anaknya, Aris, berpidato mewakili ibunya di dalam penghargaan Nobel Perdamaian. Komunikasi yang sangat terbatas yakni radio usang menjadi cara Suu Kyi untuk mendengarkan pidato penghargaan Nobel di Inggris untuk dirinya. Suu Kyi sangat dihargai di negeri orang sebagai pejuang demokrasi dan HAM, namun oleh dimusuhi oleh pemerintahan negerinya sendiri.
Sejak memperoleh Nobel dan kisahnya terus disuarakan di seluruh dunia, dukungan terhadap Suu Kyi tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari pejuang-pejuang demokrasi dan hak asasi manusia di hampir seluruh dunia, ada Desmond Tutu dan lain-lain. Dukungan dari negara-negara ASEAN juga kuat untuk mendesak pemerintahan Junta menghentikan represi yang berlebih terhadap Suu Kyi dan NLD. Menghadapi pasukan yang menjaga rumahnya atau seperti ‘sipir’ dalam kondisi Suu Kyi sebagai tahanan rumah, Suu Kyi menggunakan musik untuk mengikat dan melunakkan hati para penjaga. Ia juga tidak bersikap sinis kepada para penjaga, sebaliknya, dia mengajari para penjaga tentang politik, anti-kekerasan, HAM, dan kebebasan.
No comments:
Post a Comment